Semesta Surawisesa Part I


Pukul 22.16 hujan masih saja tak mau pergi dari kota ini. Dua belas jam berlalu dan hujan masih tak mau pergi menjauh. Kali ini aku menyendiri di suatu kedai kopi yang tak jauh dari tempat tinggal ku. Ada yang lucu dari kedai kopi ini, entah mengapa setiap kali ku ke sini alunan lagu yang diputar selalu sama dengan lagu yang biasa aku dengarkan. Perasaan ku semakin menjadi saat sebuah lagu yang aku kenali langsung menusuk ke sanubari, Baby I'm-A Want You judulnya. Seketika teringat aku tentang semesta yang sepertinya ingin diriku sendiri di tempat ini. 
Satu jam berlalu gelas kopi ku terlihat kian menipis. Entah mengapa tepat saat kopi ini menipis ku melihat sosok wanita manis, duduk tepat dua meja di samping ku. "Hah? Sejak kapan ada dia disana? Ini memang dia yang datang tiba-tiba atau aku yang buta" pikirku dalam hati. Mungkin benar apa yang ku katakan tadi, semesta memang berkehendak seperti ini, ingin rasanya ku menghampiri dia, tapi apalah daya, rasa takut akan penolakan lha yang selalu aku rasa, membuatku memilih tertunduk untuk diam. Hingga akhirnya coretan pena ini tergoreskan di buku coklatku.
"Bertatap muka kala purnama saat mentari baru tiada.
Kopi itali diatasmeja menemaninya dengan penuh cinta
Sungguh jelita tiada tara purnamapun ikut bercahaya
Ingin sekali ku sapa dirinya hanya untuk sekedar taunama dan nomer telfonya
Namun tunggu...
Oh tuhan! Hampir saja ku kembali ke sesuatu yang fana
untuk apa aku mengenalnya? Karena cinta yang ku punya pun tak pernah bisa aku jaga.
Dan cukup ku kenal dia sebagaiperempuan tanpa nama"
Seperti biasa puisi adalah satu-satunya jalan pelarian ku dari kenyataan bahwa aku hanya seorang pecundang.
Pikiranku kembali tak karuan melihat kosa-kata yang tertanam "Cinta yang ku punya tak pernah bisa ku jaga." Mengingatkan ku kepada seseorang. Salvia wanita yang cintanya tak pernah bisa ku jaga. "asshhh... Lelaki tetaplah lelaki" geramku. Dengan sekejap barang-barangku segera ku kemas dan siap untuk beranjak. 
Entah pikiran apa yang membuat ku ingin pergi, saat hujan sedang deras-derasnya, aku malah berlari ke arah motor ku untuk menikmati derasnya hujan di kota ini. "drengdengdeng..." corsa ku sudah siap untuk jalan, sejenak kulihat wanita itu dan dia pun melihat ku dengan tatapan yang bingung "Ini orang ngapain ujan-ujan pergi, mana deras lagi, dasar aneh." mungkin itu yang ada di pikirannya. "dreeeeeng...." Suara khas dari motor dua tak, membawa ku menjauh dari kedai itu.
Kepulan asap keluar dari mulut ini, temani aku mengerjakan gambar kerja yang harus di kumpulkan besok pagi. Ku hisap kembali rokok ini dan ada suatu hal yang terasa janggal di benak ku "Anjing! Kitab Coklat...." Sebuah kalimat dengan sekejap buatku panik seketika, semua tulisan-tulisan tentang pelarian ku dari kenyataan dengan bodohnya ku tinggalkan di sana. "Okey sa, tenang sa, semua pasti aman. Pasti disempen kok ama barista disana, mending sekarang kamu fokus kerjain gambar potongan mu,inget empat jam lagi gambar kerja mu harus dikumpul" kucoba untuk tenangkan diri ini dan kembali fokus dengan tugasku untuk besok pagi. 
"Sa! Sesa! Udah mau jam delapan nih. Lu kelas kagak?" 
"Iya sabar elah, ini gambar gua tinggal nulis skala. Kalo lu takut telat sok aja duluan" balasan ku kepada Ryan yang sedari tadi terus berteriak-teriak tak karuan
"yaudah, gua duluan deh yak. Jangan ampe skip kelas lu ya"
"hmm.."
Ku masukan enam gambar kerja ku kedalam tabung hitam di dekat pintu, seperti the flashdengan sekejap sepatu sudah ku pakai bersiap untuk jalan. Senin adalah hari dimana aku selalu begadang mengerjakan tugas-tugas per-Arsitekturan, maklum meskipun sudah tingkat tiga dosen Studio ku masih suka menyuruh mahasiswanya untuk membuat juga gambar manualnya, jadi wajar saja jika senin adalah hari dimana muka ku seperti muka zombie-zombie yang biasa ada di serial televisi.
"Okay, udah jam tiga pertemuan hari ini sudah berakhir. Untuk senin depan kalian fokuskan mengerjakan maket studio kalian ya. Saya pamit, tetap semangat ya" kalimat yang dari tadi ku tunggu-tunggu. Segera ku keluar dan bergegas untuk kembali ke kedai itu. "sial! Kenapa harus ngadatnya sekarang sih? Mana Ryan belum keluar kelas" ucap ku dalam hati. Mungkin memang itu resiko bersahabat dengan vespa tua, kendaraan yang telah menemani ku selama empat tahun terakhir ini memang kadang sering tak mau nyala, banyak yang menyarankan ku untuk ganti namun terlalu banyak cerita yang telah kita lewati.
"Yan, minjem motor lu dulu dong, vespa gua ngadat nih."
"Lha? Gua balik ama siapa nanti?"
"Hmm... lu masih ada kelas kan jam lima nanti? Sebelum jam tujuh gua udah balik sini deh, bentar kok ngambil barang doang kemaren ketinggalan"
"yaudah deh nih *melempar kunci motor"
"oki, tengkyu masbro!" 
Setibanya aku di kedai itu, ku coba untuk bertanya pada salah satu barista disana
"Mas, kemaren aku ketinggalan buku kecil warna coklat, ada yang simpenin ga?"
"Bentar yak saya cari dulu, biasanya ada yang nitipin di bar."
"okey deh mas, sama single origin satu ya mas dibuat Japanese Ice, beans nya yang recommend aja deh."
"okey tunggu bentar ya."
Lima belas menit telah berlalu dan segelas kopi telah tiba di meja ku. Ada yang aneh, ekspresi barista itu seperti memberitahu ku bahwa kitab ku sepertinya tidak ada di sana.
"Ini kopinya ya mas, aduh maaf nih mas ternyata di meja bar gaada."
"hah? Serius mas? Aduh gimana ya.."
"mungkin mas bisa simpen nomer hp atau id line yang bisa saya kontak nanti, barangkali dibawa ama temen saya yang kemaren shift di sini."
"yaudah deh mas, ini *ku sodorkan kertas yang berisi kontak pribadi ku
"ada-ada aja kenapa harus ampe gaada sih" ucapku dalam hati. Sore ini kopi terasa sangat pahit, rokok terasa sangat hampa dan pikiranku semakin tak karuan.
"okey, pertama vespa ku ngadat, kedua buku ku ilang, ketiga apa lagi? Semesta memang benar-benar tak bersahabat hari ini"
*notifikasi email ku tiba-tiba berbunyi ku buka email itu dan tiba-tiba ada sebuah email yang tak kukenal siapa pengirimnya
"from: olivia
Halo mas, kemaren aku liat buku mu ketinggalan. Kuliat isinya lucu-lucu jadi yaudah deh aku bawa pulang. Maaf ya mas bukunya jadi ada di saya. Kalo nanti kamu ke kedai itu lagi kabarin ya, saya jadi gaenak maen bawa pulang buku orang hehe."
"Olivia? Apa cewek yang kemaren itu olivia? Heuu syukur lha ternyata ada yang nyimpenin buku itu. Tapi kalo ternyata dia cewe itu, dan baca puisi terkahirku... mampus deh malu kan jadinya." Perasaan senang, bingung dan malu membuat sore ku makin tak karuan, apakah harus ku balas pesan itu atau mengikhlaskan buku itu. Lima menit berlalu akhirnya ku berani kan untuk membalas email dari Olivia, seseorang belum pernah ku kenal sebelumnya membuat ku bingung untuk merangkai kata-kata agar terlihat baik di matanya
"Ah bodo amat deh, semakin aku ingin terlihat baik semakin aku menjauh dari terlihat baik." Teringat kembali sebuah teori tentang backward law — semakin kamu memikirkan sesuatu yang positif semakin hal negatif yang akan mendekati mu­­. Akhirnya langsung ku kirim email ini tanpa pikir panjang dan tanpa ada rasa ingin terlihat baik, toh kita gabisa membuat semua orang untuk selalu suka kepada kita.
"Oh iya mba, makasih sebelumnya udah mau nyimpenin, kebetulan saya lagi di kedai ini mba, saya kira ada yang nyimpenin di sini taunya ada yang bawa pulang." 
Setengah jam sudah berlalu dan aku masih ditemani rokok bersama kopi, sssshhh... asap asap kelabu mulai menemani ku di kedai ini. Waktu telah menunjukan pukul enam dan aku bergegas untuk kembali ke Ryan. saat semua sudah rapi dan aku siap beranjak pergi, tiba-tiba ada seseorang yang menepak bahu ku dari belakang.
"mas sesa?"
"eh iya, Ada apa?
"aku olivia, yang tadi nge email, pas kamu bilang lagi disini aku langsung pergi kesini. Gaenak soalnya buku orang maen aku bawa aja hehe. Btw udah mau pergi ya?"
"ohaha iya meskipun agak gimana gitu tapi yaudah lha gapapa kok, masih untung malah ada dikamu kirain ada yang buang ke tempat sampah. Iya nih baru aja mau pulang"
"wah pas banget berarti ya aku, btw ini bukunya mas"
*hujan kembali membasahi bumi, tanpa permisi langsung membasahin seluruh tempat ini
"yha hujan, mana gede lagi. Mba olivia langsung pergi atau gimana?"
"aku mau ngopi dulu sih kebetulan, terus hujan juga kan jadi sekalian neduh dulu. Btw puisinya lucu-lucu lho, aku gabisa bikin puisi kaya gitu, tiap kali buat pasti jatohnya kaya hiperbola dan lebay gitu, tapi yang kamu kok nyaman aja di bacanya ga jijik gitu. Oh iya panggil aja oliv kali aku masih muda juga belum mba-mba"
"oh iya? Malah aku ngerasanya itu jijik lho, makanya ku agak malu ada orang yang baca itu. Okii kamu juga kalo mau bisa panggil aku sesa aja gausah pake mas hehe" 
Entah apa yang terjadi, aku baru sadar bahwa kini aku sudah duduk berdua dengan oliv, Bercerita ngalor ngidul hingga akhirnya dia membuka sebuah topik yang sering kali aku menghindar dari obrolan semacam itu.
"Eh aku baca puisi yang judulnya Tuhan, you still believer right?"
"Hmm... kalo aku jawab I just believe in good gimana?"
"Itu berarti...."
"terserah kamu mau mengartikannya gimana hehehe"
"oh iya btw halaman terakhir di buku mu itu puisi tentang perempuan di kedai ini kan? Kok bisa sih lansung buat puisi yang kaya gitu dengan selang waktu beberapa menit kan pastinya?"
"hahaha iya ya gatau juga sih, buku ini sangat berarti bagiku karena setiap ada situasi yang tak bersahabat aku selalu mencari pelarian dengan menulis di buku ini"
*Hujan deras dengan tepat membasahi wajahku, dan sebuah suara yang mengganggu terdengar dari awan-awan hitam di kedai itu
"Sa! Bangun udah jam tiga nih, Bu Risha uda keluar kelas tuh"
"Hah..." kujawab dan mencoba mengingat apa yang sedang terjadi
"udah jam tiga sa! Kelas dah beres, lu dari awal nyenyak banget tidurnya"
"anjeng! Yang tadi Cuma mimpi ternyata" ucapku dalam hati setelah sadar bahwa aku dari tadi hanya tidur di kelas ini
"iyaa Kar, udah bangun nih ayo balik" balas ku kepada Karla, salah satu teman studioku yang biasa membangunkan ku di akhir sesi kelas
Aku beranjak meninggalkan kelas, menuju parkiran untuk pulang ke kosan. Vespa Corsa ku kali ini baik-baik saja, mungkin mimpi yang tadi ku alami memang hanya sebatas imajinasi ku saja yang terpendam, namun ada yang aneh, wanita di dalam puisi terkahir ku itu bukan lha olivia. Jadi siapa kah olivia ini? Kucoba untuk mengingat kejadian di kedai itu pun kurasa tak ada wanita yang rambutnya di bob pendek dan berwarna sedikit pirang. Aku sangat ingat sosok wanita di puisi terakhir ku itu adalah wanita dengan rambut hitam panjang bukan di bob pendek dan berwarna pirang. Mimpi memang selalu aneh namun kejadian di mimpi itu terasa sangat nyata bagiku. Aku bergegas menuju parkiran, Vespaku kali ini menyala dan siap untuk pulang, tidak ngadat dan tidak ada motor Ryan yang bisa aku pinjam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (Lagi?)

Lembayung

Cinta yang Sederhana?