Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

Biru

Biru Lukisan itu tergores kan warna biru Teramu dalam campuran merah dan ungu Padu, komposisi yang belum pernah aku ramu hingga menyatu menutup si biru hingga tak ada kesan mengganggu Tapi ia masih merasakan satu hal yang tabu, warna biru tetap lah biru walau ditimpa merah hingga menjadi ungu atau malah hingga warnanya kelam hingga seperti abu persis seperti kayu yang kau bakar bercahaya baik merah ungu jingga atau pun biru namun setelahnya pasti akan terlihat abu. Biru Warna yang paling ambigu, langit berwarna biru, samudra berwarna biru dan lukisan ku selalu tergores biru. Biru selalu indah di mata ku, biru yang selalu di anggap kebebasan yang tak mungkin bisa terganggu. Sebanyak apapun awan putih di langit, langit tetaplah biru. Sebanyak apapun plastik hitam di samudra, warnanya tetap lha biru. Sebanyak apapun warna merah dan ungu di lukisan ku, lukisan ku tetap lah biru Biru Teramu, ambigu, buat sesuatu menjadi ragu, hal yang tabu, mengganggu menjadi hal yan...

Ruang Dalam Ruang

Ruang dalam ruang, berhubungan saling membentang membuat ruang yang semakin meruang hasilkan ruang yang meraung dalam tenang bunyikan gaung akan kesenangan saat kita berenang di lautan ditemani cahaya bulan dan bintang-bintang yang berjatuhan Ruang dalam ruang, tergambarkan oleh senyuman yang kini hilang setelah diterjang oleh badai dan topan lalu tinggalkan sebuah kenangan tentang pahitnya cinta di masa depan. Ruang dalam ruang, tinggal kenangan untuk dikenang kini mulai menggenang namun bukan tempat biasa untuk kita berenang bersenang-senang. Tetapi ruang dalam ruang aku tetap berkenan jika ia tetap merasa senang di dalam ruang dalam ruang

Bandungmu

Bandung Di kota ini kau kembali lagi, memupuk harapan tentang buaian cinta di masa depan yang tak mungkin kau dapatkan di kota sang sultan Lihat! Tepat di sini, tempat kau berdiri, tempat yang paling sering kau hindari kini berubah menjadi tempat yang mungkin takan terganti. Lihat! Kopi yang biasa kau nikmati kini terasa sepi, aroma yang pekat mulai membuat sekat antara hati yang kini tak mungkin terlihat kembali Dengar! Burung-burung yang biasa bernyanyi di atas pohon tua yang sering kau tandai kini telah pergi dan tak pernah kembali Tak sadarkah dirimu? Bandung yang baru bukanlah bandung mu yang dulu. Tak sadarkah dirimu? Bandung telah berganti haluan, merubah seluruh kehidupan, bandung yang biasa bercerita tentang cinta dan tawa menjadi bandung yang menangis karena duka dan nestapa Cinta yang kau pupuk dalam diam, mengharapkan kebahagian di masa depan lebih baik kau kubur dalam-dalam. Semua kenangan yang sering hancurkan mu dari dalam kau abaikan demi sesuatu ya...

Sabda Cinta

Berawal dari tatapan, cinta dapat bersemayang dalam lamunan Dari mata turun ke hati, secepat darah mengalir di nadi Dari menyapa malah timbulkan rasa, lupakan sejenak sang nestapa Kata-kata darinya lupakan makna dari setiap perkara, membangun realita di atas kehidupan yang fana Aku juga cinta. Dor! Cukup tiga kata hentikan dunia ku untuk sementara. Sementara karena akhirnya kau memilih dia dan tinggalkan aku bersama sang nestapa

Kini atan Nanti?

Hari berganti hari Aku masih menari Diatas mimpi Tentang masa depan yang pasti Mimpi membawa ku ke Jogjakarta Berharap kelak jadi arsitek ternama Namun apa daya Aku malah menjadi seorang pendosa Yang berharap masuk neraka 10 tahun akan aku tunggu seorang pendosa dari kota jogja menjadi seorang arsitek ternama di negeri indonesia

Kamu

Kamu yang selalu ada dalam tulisan ku Kamu yang selalu ada dalam lamunan ku Kamu yang selalu aku rindu Kamu yang selalu aku tunggu Dan kamu yang sampai saat ini belum aku temu. Setiap kata yang tergores oleh pena Tak terhingga kata kamu yang aku puja-puja belum sampai pada saat aku bertemu kamu yang nyata

Tentang Sepi

Puisi ku pagi ini, bercerita tentang sepi yang berubah menjadi sesuatu yang tak dapat ku mengerti Kata demi kata semakin menjadi-jadi Detik demi detik semakin terlewat pergi Sepi kali ini berbeda dengan teman ku yang sejati Sepi kali ini yang pertama mulai buat ku tuk berhenti menari Menari di tengah kehidupan ku yang tak pasti Sepi kali ini buat aku patah hati, sepu pertama buatku mencari akan artinya kehidupan ini namun jawaban masih misteri Sepi kali ini membawa ku untuk memulai cinta yang katanya sejati

fiuuh

Waktu beranjak pergi tinggalkan aku disini Sendiri Ditemani kopi juga sepi Hari demi hari terus berganti Namun lara tetap tak mau pergi Ashhh Lelah hidup seperti ini Tapi mati juga bukan jawaban dari semua ini

Bekonang

Malam ini aku ditemaninya Melintasi semesta Melihat dunia kita Kita, yang selalu bersama saat dulu kala Kala aku mencoba mencari arti dari cinta Kini cinta adalah satu kata Tentang aku dan dia Yang tak mungkin bisa bersama Karena aku tau dunia ini fana Fana? Iya fana! Fana kala aku tau ternyata dunia ini adalah neraka

Hik

Tawa-nya untuk kali pertama Di sekian hari setelah jumpa Hik hik hik Ha ha ha Wakakakak Cekakakak Heuheuheu Sepertinya suara tawanya tak terukir oleh kata-kata Maafkan aku semesta Hal ini hanya bisa dilukiskan di kepala

Take a Shot

I dont know if the grammatical is messy or something, i just take a shot to feel something different This morning i got trouble When i take two shot Espresso called double D o double g still mothefucker Get two shot of weed sack Make me crazy about exact U better take a toothpaste called zact Cause your teeth like a crashing truck Fuck that shit when you call me lucky bastard

Bintang?

Bintang bersinar terang sukanya buat aku melayang menembus ke batas awan awan yang mana? utara atau selatan? tak masalah, yang penting warnanya hitam kelam seperti hidupku yang malang saat tahu bahwa bintang di sini harganya mahal katanya sih kadang ada diskonan tapi saat ku dapat selalu yang harga normal ah persetan dengan bintang yang penting tadi temanku datang bawa minuman katanya sih sama sama minuman mahal asal kamu tahu saja kawan vodka rusia atau cap orang tua sama-sama bisa buat kita melayang melebihi awan menembus bintang lalu tersadar berada di neraka jahanam

Makan itu Semestra

Aksara terpampang nyata Kata-kata dari dirinya Salahkan aku juga semesta Tak mungkin aku lupa Untukmu nona manis Jangan lah kau sinis Cukup hati ini kau iris-iris Mengkikis Tipis Dengan sadis Sebentar aku ingin dulu pipis Hingga hidup ku semakin miris Nona manis, semesta akan selalu ada saat kamu dan aku menjadi kita Semesta tak mungkin mendua, memilih dia yang sudah punya Tapi semesta kini tertawa ternyata kamu bukan lah dia Semesta juga tertawa karena kamu sama saja Jika kau ingin tau Aku dan semesta tertawa bersama Melihat mu seperti wanita lainnya

Fukis

Miris… Hidup ku seperti teriris Hati semakin terkikis Orang semakin sinis Padahal aku cuma ingin kue fukis

O O

O O Kamu melakukannya lagi Kebercandaan ini Kebahagiaan ini Kenestapaan ini O O Semesta mungkin akan menggila Melihat tingkah mu yang gila Berawal dari buku Kini juga hidupku

Takata

Ada kata yang tak terucap Saat terakhir kita bercakap Ada sesal yang menanti Di ujung jalan kisah ini Tawa kita berganti dulu kita Tangis kita menjadi pernah kita Tentang kita akhirnya kita lupa Kata-kata kita-kita kita kata kata kita

Kali

Tulisan ku kali ini Sedikit kata Berjuta rasa Tulisan ku saat ini Rindukan cinta Dari sang maha esa Tulisan ku kali ini Tandakan diri-Nya  hilang entah kemana Tulisan ku saat ini Cukup sampai di sini

Halusinasi

Halusinasi Buat aku kembali mati Menggenang Terbenam Lalu tenggelam Ke bawah kegelapan yang tak akan bisa aku lawan Untuk mu tuhan ini kah pelampiasan yang kau berikan pada hamba mu yang tak tau arah untuk pulang

Ekspektasi

Ekspektasi semakin menjadi-jadi Membelenggu ku ke dalam ilusi Tentang kisah yang berseri-seri Menjadikannya sebuah obsesi Obsesi membuat ku mati Perlahan, namun pasti Meng iris pelan tepat di nadi Mencekik bagaikan tali Menusuk bagaikan belati Tolong lepaskan aku dari jeratan ilusi Ilusi akan cinta yang sejati Sadarkan ku dari obsesi Obsesi akan kehidupan yang berseri-seri Selamatkan ku untuk kembali Kembali menjalani realita yang tak pasti Yang akan selalu jadi misteri

Tut.. Tut... Tu...

Kereta ku tiba Tut tut tut Aduh siapa sih yang kentut Bikin emosi ku tersulut Apa si gendut yang kentut? Atau yang diem di sudut Ah persetan Semoga dia yang kentut Ketemu roro mendut Lalu di kutuk Menjadi keong tutut Yang baunya kecut Astaga kok aku gabisa jaga mulut Berani beraninya main kutuk Kalo ibu tahu dia pasti terkejut Lihat otak anaknya yang kusut Tapi otak kan emang kusut… Ah persetan lagi Kereta sudah menjemput Lalu bunyi lagi tut tut tut

Kereta Malam Ini

Kereta malam ini Tinggal cerita tentang nestapa Nestapa yang selalu ada di mana pun ku berada Bandung  Jogja  Jakarta Juga surabaya Nestapa akan luka yang sama Perihnya cinta berujung petaka Kereta malam ini Bawa aku menuju luka lama Yang telah terkubur di dalam rasa Kembali di gali terbuka Saat aku tau destinasi ini berhenti dimana Kereta malam ini Ramai Penuh kebahagian Juga nestapa Ada bahagia akan bertemu cintanya Ada nestapa akan meninggalkan cintanya Kereta malam ini Penuh suara Canda tawa menggema Walau ada sepi di dalamnya

Semesta

Semesta kembali bercanda Kala diriku di sinema Bersua kita di sana Di saat waktu yang tak mungkin bisa ku percaya Semesta memang bercanda Buat ku kembali terlena Akan kehidupan yang fana Semesta memang berkuasa Lupakan ku akan nestapa Ingatkan ku untuk kembali bahagia Semesta memang juara? Atau ia ingin memberi ku derita Tentang cinta yang fana

Sang Pendosa

Aku terlena oleh kota mereka Tiada purnama tanpa kasih sang orang tua Bulan dan bintang di pantulan kesucian vodka Kapal berlayar entah kemana Mungkin ke samudra Atau malah hanya berkeliling kota Kehidupan ku sedikit merana Hidup sendiri di kota yang sudah tua Berniat mencari ilmu bekal di masa tua Tapi malah terjerumus ke kehidupan yang fana Tuhan yang disana maafkan lha hamba Itu pun jika engkau memang bebar adanya Aku hanya ingin mencari sesuatu yang bermakna Bukan menjadi seorang pendosa Walau aku tak pernah takut neraka Dan tak pernah juga berharap surga Semoga engkau tetap bersama hambanya Seorang pendosa di kota mereka

Nanana

Terang lampu tak lagi sama Badai kemarin tinggalkan bencana Di saat aku sedang bahagia Heuu… ternyata semua itu fana Kamu tetap menjadi obsesi ku yang nyata di balik kepalsuannya cinta

Badai Kali Ini

Kelap kelip bintang Terang Bergelimang Bersembunyi di belakang derasnya badai Sebentar, hanya datang lalu menghilang Menyisakan langit hitam yang kelam Tinggal kan sejuta kenangan tentang kehidupan Yap benar sekali sayang Tiba-tiba datang tanpa diundang Lalu enggan untuk menghilang

BaB

Sendiri di malam gelap Dengan mata yang sedikit sembab Di tengah deras hujan yang buat kamar ku agak lembab Mungkin kelakuan ku memang tak beradab Atau malah sudah biadab Karna pergi begitu saja tanpa sebab Padahal aku hanya ingin menyelesaikan hal itu dari bab ke bab

Haha

HAHAHA Aku tertawa sampai asa memutus rasa HAHAHA Aku tertawa sampai belati mengiris hati HAHAHA Aku tertawa karena obsesi buat ku tipsi HAHAHA Aku tertawa karena mimpi membuatku mati

Hujan dan Rindu

Tentang hujan dan rindu Tentang aku dan kamu Tentang aku merindu Kala hujan bersamamu Hujan takan datang lagi ujar mu Hujan telah hilang guman mu Hujan tak lagi sama teriakmu Kala ia datang aku meneduh di bawah payung kerinduan

Durrr

Aku tidur Mendengkur hingga tersungkur Tersungkur atas kenyataan yang menyuruhku untuk mundur Mundur Dari mimpi yang sudah tak mungkin bisa terukur Akhirnya aku kembali tertidur diatas kasur

Detik

Detik Menggelitik, aku yang selalu ingin so ber-etik Detik Menari-nari diatas aku yang ingin meng-otak-atik Detik Memang antik, buat aku mati diam tidak ber-kutik

Hujan Saat Ini

Dua hari hujan tak berhenti Pikiran ini pun tak mau pergi Jogja sedang menangis Aku masih meringis Waktu memang bengis Segalanya ia kikis Aku tetap meringis Berharap nadi ini teriris Tinggal kan semua perih Tinggalkan semua pedih Tinggal kan dunia yang sedang bersedih

Lagi

November jadi saksi kisah ini Dua kali terjadi Lagi, di bulan ini Di musim hujan Di saat awan sering menangis Di saat aku sering meringis Di saat hati ter-iris Dan akal semakin terkikis

Hurt

Merangkai kata hingga bicara Merangkai nada hingga suara Kita rangkai mereka hingga tercipta irama Tapi tak pernah bisa ku rangkai takdir untuk bisa bersua

Jogja Tersedu

Jogja tersedu Kala aku merindu Kehidupan yang dulu Kala deras hujan tak buatku meneduh Kala angin malam tak pernah buat ku rubuh Kala bintang tak pernah meredup Kala tak ada jeda diantara kata Kala tak ada ruang diantara kita Kala suka menari diatas duka

Jogja Bersendu

Hari ini jogja sedang sendu Saat orang-orang sedang merindu Termasuk aku, yang sudah tak bisa terbendung oleh waktu Jogja sedang sendu Langit biru pun kini menjadi abu Bikin kita sendu melulu Jogja sedang sendu Turunkan hujan bersama masa lalu

Apaya..

Tenggelam dalam tawa Menghapus tangis dalam jiwa Luka selalu ada Walau dibasuh dengan cinta Sampai kapan hal ini terasa Ku tau ini tak akan bertahan lama Tidak mungkin selamanya Karena tangis selalu ada dibalik tawa Seperti kosa dan kata

Seni

Warna dalam kuas Ritme dalam nada Kata dalam cerita Lekuk dalam tari Semua hal yang berbau seni Yang dihiraukan di negeri ini Mau jadi apa kau besar nanti Kerja mu bergelut di bidang seni Tak ada harapan di negeri ini Mungkin nanti Hal itu kan terjadi Saat semua telah mengerti Seni sejati bukan lha seni Seni sejati tak butuh berkomunikasi

Kopi dan Sholat

Kopi hitam Pekat Bagai dosa yang selalu melekat Dalam tubuh selalu lupa sholat Namun ada manis yang hebat Dibalik kopi pahit yang pekat

Cieelah

Lamunan malam ini Tentang dirimu kembali Menghantui Tak pernah mau pergi Lirikan mata Bertanya-tanya Akan kah ada cinta yang nyata? Teringat saat pertama bersua Bertatap muka ditempat yang takan pernah ku lupa Semoga nanti kita berdua bisa saling menjaga tanpa harus ada cinta diantara kita

Yogya

Hujan dikota jogja Sebentar tapi bermakna Menutup indahnya jingga Kala senja Dua hal yang aku suka Bertemu di waktu yang sama Hujan kala senja Jatuh ke tanah Menghapus duka dan lara Mengusir fana Dengan penuh makna

Cerita Cinta

Bayang mu kala itu Kala sore bersenandung ria Berbicara akan senja Berwarna jingga Terus melintas di kepala Membuat hari ku menjadi gila Gila tentang cinta Yang jelas tak pernah ku percaya Cinta dan fana Dua hal yang sama

H

Uhuk uhuk uhuk Malam telah suntuk Mata tak kunjung kantuk Mungkin karena batuk? Atau karna terciduk?

Hujan

Ku Berjalan ditengah sepi saat hanya ada bulan disini Sepi setia menemani Bagai sahabat sehidup semati Ku disini masih berdiri Berdiri ku setia menanti hujan Walau kutau takan datang Kemarau ini masih sangat panjang Datanglah kau padaku, hapuskan lah air mata ku Padam kan lah cinta ku, sebelum ini menjadi abu Sadarkan lah jiwa ku, karena dia bukan untuk ku …. Pahami lah, bahwasalnya, sepi setia menemani ku Ku disini masih menanti Karna kuyakin hal itu akan terjadi Sayangnya tak pernah terjadi Hujan tak mau temani ku tuk menangis disini

Ancut-

Purnama sedang bersahaja Sinarnya pun sampai ke tengah kota Tempat para wayangan bersuka ria Para punokawan terlihat sedang asyik tertawa Melihat seorang pria yang sedang tersiksa Sungguh ironi saat semua orang sedang asyik bercerita tentang cinta Aku di sini sedang asyik menderita

A

Merasuk jiwa Menusuk sukma Menuju angkasa Menjadi moksa

Wkwkwk

Ini adalah saat2 yang sangat tidak ku sukai, saat orang2 disisi ku kembali lagi menjalani kehidupan nya yang sejati. Kehidupan nyata yang membangunkan ku dari hal fana.  Bahwasalnya menata kehidupan selanjutnya, masa depan, dan cita-cita adalah jalan kehidupan masing masing dari mereka.  Yang ku benci adalah masa2 saat kita berjuang bersama namun untuk tujuan yang berbeda karena pada akhirnya kehidupan nyata memisahkan lagi aku dengan mereka. Sampai saat ini aku masih Belum kapok akan kehidupan fana

Dudidam

Teman datang bersemayang di lamunan Kekesalan yang kurasa akan hadirnya mereka yang tak bermakna Tanpanya hidupku tetap bermakna Adanya hidupku pun tetap bermakna Kekesalan ini semakin menjalar dalam asa sampai kepala dan fikiran kata kata yang selalu kau bilang. Dan juga yang kau makan Waktu semakin cepat detik detik kian mengkilat Teman hanya lha sesaat Kesepian lha yang tak pernah lenyap  

Hip-O-Krit

Pikirku semakin dalam Firasat ini terus bersemayang Perihal asa akan mereka Yang tak lain tak pernah nyata Kalian itu fana dan tak pernah ada Jika cuma datang saat kau butuh Apalah aku yang tak pernah jadi utuh Sendiri aku berjalan Ditengah derasnya badai malam Ditengah orang-orang yang sedang bersembunyi di bawah payung kemunafikan Ditengah orang-orang yang selalu bilang mencintai hujan tanpa pernah merasakan manisnya rintikan kebahagiaan

Bohong

Siang bolong Kaos oblong Teh uloong Anak kolong Minta tolong Kamu masih berbohong

Anjing

Teman bukan lah teman Karena sampai sekarang hanya sepi yang selalu ku rasakan Kawan bukan lah kawan Karena sampai sekarang kekecewaan Yang selalu ku rasakan Kekasih bukan lah kekasih Karena sampai sekarang kesedihan lah Yang selalu menemani Mereka datang hanya sebentar Membuat ku candu akan ketidaknyataan Mabuk akan kesedihan, yang telah dibalut rapih oleh kain-kain kebahagiaan, Dipercantik manik-manik kesetiaan yang tak lama lagi akan pudar hingga terlihat lah kesepian yang mendalam. Sampai saat ini topeng ini selalu terpampang Ekspresi senang dihadapan orang-orang Padahal dibaliknya terdapat kehidupan yang sangat kelam Pedihnya Hidup diantara anjing-anjing suram

Pesan Cinta

Pesan cinta pagi ini Kiriman dirimu untuk segarkan pagi ku Walau jarak memisahkan kita bukan berarti hati kita jadi terluka Ku baca kata demi kata hingga menyusun kalimat-kalimat indah yang merasuk ke jiwa Bandung jogja jauh katanya 400 km jaraknya dan 10 jam lama perjalananya Jarak mengajarkan kita berdua bahwa rasa percaya yang akan saling menjaga Kita berdua. Namun ada waktunya Saat Saat dimana kita berdua tak lagi saling menjaga Saat dimana kita pun tak saling percaya Dan jika wantu itu pun tiba ku percakan dirimu pada dirinya yang mungkin bisa membuat mu lebih tertawa lepas karena bahagia. Dan saat waktu itu pun tiba tak usah kau hiraukan diriku disana. Seperti yang selalu kau katakan bahwa diriku pun pasti kan bahagia.

Dut..

Malam ini terlalu larut Untuk dirimu yang sedang cemberut Buanglah wajahmu ya kusut Kusut bagai tali-tali cinta kita yang telah tersulut Yang tersebar dari mulut ke mulut Ku selalu menulis kisah ku di sini bukan karena saya penakut mungkin lebih tepatnya karena saya sedang gabut