Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Badai di Rawa

Badai di atas rawa yang malang di tengah hamparan rumput ilalang yang tersebar, menerjang teratai seperti ombak menerjang karang Terjangan badai yang seperti ombak menerjang karang membuat rawa yang malang menjadi rawa yang penuh kasih sayang. Ia memberikan seluruh tubuhnya agar para binatang bisa kembali senang. Namun sayang teratai cantik yang selalu menemaninya saat malang ia lupakan karena buaian para binatang yang memujanya bagai sosok pahlawan yang memenangkan perang

Abu sang awan

Kini malam terlalu malam cahaya bintang yang berjatuhan ingatkan aku tentang kerinduan kini malam terlalu malam Sinar bulan yang terbiaskan oleh awan-awan yang yang sedang menari di langit malam membuat malamku semakin kelam Astaga malam sudah terlalu malam aku masih melirik bulan yang sedang bersembunyi diantara awan-awan yang sedang menari Sungguh malam terlalu malam aku melupakan bintang dan bulan dan hanya fokus kepada awan yang terus mendadahi ku tentang warna abu yang membuat nyaman

Teratai di Rawa yang Pelik

Teratai yang cantik di atas rawa yang pelik kini menari dibawah hujan yang sedang merintik Teratai yang cantik di atas rawa yang pelik ia sedang lupa akan jarum detik yang terus mendelik yang biasa membuatnya diam tak berkutik Teratai yang cantik di atas rawa yang pelik kini ia kembali tak bisa berkutik termakan oleh detik Setelah hujan berhenti merintik, sesaat setelah teratai kembali diam tak berkutik, M entari senja dengan cahaya oranye sedikit merah kembali membuat teratai kembali cerah dengan pantulan keemasan yang tercurah namun sayang Mentari hanya terlihat sebentar, kini teratai kembali pudar ia kembali menunggu mega merintik atau senja yang menjadikannya ia cantik

Teratai, Mentari dan Mega yang Kelam

Ada sebuah teratai dalam satu rawa yang besar, mekarnya sangat berkilau dengan pantulan cahaya mentari yang sedikit keemasan. dengan sekejap ia menghilang saat terik mentari pergi tanpa diberi salam perpisahan Keesokannya teratai yang tadi kembali menunggu cahaya mentari yang sedikit keemasan tapi sayang ia tak tahu bahwa mega yang mendung tak akan pergi di waktu sekarang Teratai masih bersabar menunggu mentari datang untuk menghapuskan tangisan mega yang selalu kelam. Padahal nyatanya mega menjadi kelam karena ia tahu bahwa ia tak akan pernah lagi melihat cahaya teratai yang sedikit keemasan

Semesta Surawisesa Part I

Pukul 22.16 hujan masih saja tak mau pergi dari kota ini. Dua belas jam berlalu dan hujan masih tak mau pergi menjauh. Kali ini aku menyendiri di suatu kedai kopi yang tak jauh dari tempat tinggal ku. Ada yang lucu dari kedai kopi ini, entah mengapa setiap kali ku ke sini alunan lagu yang diputar selalu sama dengan lagu yang biasa aku dengarkan. Perasaan ku semakin menjadi saat sebuah lagu yang aku kenali langsung menusuk ke sanubari,  Baby I'm-A Want You  judulnya. Seketika teringat aku tentang semesta yang sepertinya ingin diriku sendiri di tempat ini.  Satu jam berlalu gelas kopi ku terlihat kian menipis. Entah mengapa tepat saat kopi ini menipis ku melihat sosok wanita manis, duduk tepat dua meja di samping ku. "Hah? Sejak kapan ada dia disana? Ini memang dia yang datang tiba-tiba atau aku yang buta" pikirku dalam hati. Mungkin benar apa yang ku katakan tadi, semesta memang berkehendak seperti ini, ingin rasanya ku menghampiri dia, tapi apalah daya, rasa takut aka...